Pemimpin Perempuan Menangani Covid

Pemimpin Perempuan Menangani Covid Jauh Lebih Baik

Pemimpin perempuan menangani Covid terbukti jauh lebih hebat daripada negara lainnya, terlebih lagi mereka melibatkan pertimbangan ilmu sains. Tengok saja misalnya Norwegia, New Zealand, Taiwan, serta Jerman, di mana angka korban meninggal akibat Covid cenderung rendah daripada skala umumnya.

Persamaan paling mendasar ada satu hal yang menonjol, yaitu keempatnya memiliki pemimpin negara berjenis kelamin wanita yang selama ini terpandang sebelah mata. Keputusan yang mereka ambil pun seringkali pergerakannya sungguh cepat sehingga menandakan bahwa mereka memiliki cara berpikir yang kritis.

Pemimpin Perempuan Menangani Covid Jauh Lebih Baik

Keempatnya menerima banyak pujian oleh sejumlah media massa berkat cara mereka mengambil tindakan dalam rangka menekan kasus Covid. Bermacam kebijakan pun keluar dari mulutnya secara tepat sasaran dan jarang sekali merupakan keputusan sia – sia yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Forbes bahkan menganugerahi para pemimpin wanita ini sebagai teladan yang sempurna dalam mempraktekkan cara memimpin sebuah negara. Wanita kini perannya mulai mendapat perhatian serta diperhitungkan oleh dunia karena mereka punya kelebihan yang biasanya sulit kita temui pada kaum lelaki.

Para pengamat politik menekankan bahwasanya terdapat sekian banyak fakta mencengangkan salah satunya yaitu terkait kondisi kesehatan. Para pemimpin wanita terbukti selalu lolos tes Covid menandakan bahwa mereka lebih waspada menjaga kesehatannya ketimbang pimpinan laki – laki dari seluruh penjuru dunia.

Pemimpin Perempuan Menangani Covid Secara Cekatan

Publik kini penasaran, apa sebabnya sehingga negara yang punya presiden perempuan memiliki tingkat kesuksesan lebih tinggi daripada lainnya? Untuk menjawab rasa keingin tahuan tersebut, Perdana Menteri Islandia bernama Katrn Jakobsdttir mengadakan penelitian lebih lanjut dalam skala masif supaya lebih akurat.

Walaupun Islandia merupakan negara kecil dengan populasi 360 ribu jiwa saja, namun para pemimpinnya sama sekali tidak ingin bersantai menghadapi Covid. Pemerintah setempat langsung mengeluarkan peraturan yang melarang warga berkumpul lebih dari 20 orang di akhir Januari, padahal belum ada kasus positif kala itu.

Pemimpin Perempuan Menangani Covid Secara Cekatan

Menjelang pertengahan April, tercatat ada 9 korban kasus Covid-19 yang meninggal dunia khusus laporan negara Islandia saja. Sementara itu, negara Taiwan dipimpin oleh Presiden Tsai Ing Wen mendirikan pusat pengendali wabah lalu menugaskan bawahannya untuk menelusuri jejak penularan virus Covid.

Tak hanya selesai sampai situ, presiden pun mendorong kuantitas produksi masker wajah dan sejumlah atribut pelindung diri lainnya. Berkat keputusannya yang kritis dan tepat sasaran, hingga kini Taiwan baru merasakan dampak sebanyak 6 korban meninggal dari total populasinya 24 juta jiwa.

Pemimpin perempuan menangani Covid secara luar biasa, misalnya lagi ada PM Jacinda Ardern asal Selandia Baru yang menolak berkompromi. Ia memutuskan untuk mengambil jalan paling ekstrim yaitu dengan mengadakan lockdown total manakala penduduknya telah meninggal sebanyak enam orang banyaknya.

 Wanita Punya Insting Alamiah Melindungi Kelompoknya

Pemimpin perempuan menangani Covid dengan langkah terbaik kembali lagi karena kita harus mengupas tuntas tentang kepemimpinan perempuan itu sendiri. Namun jangan lupakan juga terdapat begitu banyak faktor yang menjadi penentu selain daripada faktor leadership itu sendiri sehingga terlalu luas jika menjabarkannya secara detail.

Bagaimanapun, sejumlah negara tersebut barusan sejatinya merupakan termasuk negara yang memiliki roda perekonomian jauh lebih maju daripada rata – rata. Cara mereka melayani masyarakat juga baik dalam menciptakan kesejahteraan sehingga pembangunan di bidang sosial kerap kali menuai nilai tinggi di riset dunia.

Pemimpin Perempuan Menangani Covid Punya Insting Alamiah Melindungi Kelompoknya

Ditambah lagi, keempat negara itu memang memiliki pondasi kuat berupa sistem pelayanan medis memadai khususnya pada saat terjadi kondisi urgent. Dengan kata lain, terlalu naif agaknya bila kita mengambil kesimpulan hanya berdasarkan kecakapan wanita dalam memimpin sebuah negara dalam menghadapi bencana Covid.

Perempuan memiliki insting alami manakala ia mendapat tugas penting sebagai penjaga utama khususnya ketika itu berbicara mengenai kelompoknya. Ia tidak akan menyepelekan masalah sekecil apapun sehingga tidak terdapat celah untuk pihak luar menyerang negaranya sepanjang ia memimpin sebagai kepala negara.

Lain halnya ketika seorang laki – laki cenderung mudah jatuh ke dalam kondisi di mana ia mabuk akan sanjungan karena memegang posisi penting di pemerintahan. Mereka bersikap arogan, tidak mengindahkan protokol kesehatan, bahkan secara terang – terangan menunjukkan sifat narsis serta naluri berkompetisi cukup agresif terhadap sesama lawan politiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *