Posisi Kaum Hawa Dan Sumbangsihnya Ke Pemerintahan1

Posisi Kaum Hawa Dan Sumbangsihnya Ke Pemerintahan

Dalam sejarah pemerintahan di seluruh dunia, untuk pertama kalinya negara Sri Lanka mengangkat seorang wanita sebagai perdana menteri pada 1960. Sosok fenomenal yang memberikan sumbangsihnya ke pemerintahan tersebut bernama Sirimavo Bandaranaike. Peristiwa itu seakan menjadi jalan pembuka bagi kaum hawa lainnya untuk bisa ikut memasuki wilayah perpolitikan.

Perlahan tapi pasti, satu persatu perempuan mulai menduduki jabatan strategis mulai dari menteri, perdana menteri, hingga bahkan presiden. Arsip mencatat bahwa sampai tahun 1990 an sedikit banyak terdapat 30 perempuan yang turut memegang tanggung jawab dalam memimpin rakyat. Jalan yang mereka tempuh bisa melalui kesempatan bergabung dengan kabinet atau parlementer.

Ketika menyentuh tahun 2000, total ada sekitar 40 perempuan yang masuk dalam jajaran pemerintahan dan kesemuanya berpengaruh. Angka ini mengalami peningkatan drastis sampai tiga kali lipat dibandingkan 20 atau 40 tahun sebelumnya.

Kaca Tebal Yang Harus Dirobohkan Oleh Kaum Hawa Ke Pemerintahan

Ada sebuah istilah yang menggambarkan betapa sulitnya perjuangan wanita demi menembus bursa kepemimpinan di suatu pemerintahan. Publik menyebutnya dengan glass ceiling, yaitu keadaan di mana kita mesti bersusah payah merobohkan langit-langit yang terbuat dari kaca tebal.

Alasan Mengapa Pemimpin Wanita Harus Berprestasi

Glass ceiling dialami oleh setiap kubu wanita di hampir seluruh negara yang terdapat di muka bumi jika itu berbicara tentang pengelolaan pemerintahan. Finlandia merupakan salah satu negara yang berhasil meruntuhkan stigma glass ceiling. Pada suatu waktu, dilaporkan bahwa pernah ada kejadian di mana tiga orang wanita sekaligus menjabat sebagai kepala dan memimpin bersama-sama.

Pada 2013, perempuan di Denmark menyumbang angka 49 persen populasi dari seluruh pejabat penting pemerintahan dan parlementer yang ada. Sementara itu, Swedia menyusul dengan pencapaian senilai 42 persen, dan kedua negara di atas mencatat kenaikan yang signifikan daripada masa-masa yang lalu.

Ada juga Inggris yang baru sempat menggores sedikit kaca dengan hadirnya sosok perdana menteri perempuan paling berpengaruh sepanjang sejarah. Beliau bernama Margareth Thatcher. Amerika Serikat merupakan negara yang sampai saat ini masih gagal menghantam tebalnya atap kaca yang kuat dan kokoh itu.

Jarang sekali ada kandidat presiden USA yang berasal dari kaum perempuan seperti Hillary Clinton. Setelah dikalahkan oleh Trump, semacam memberi peringatan bahwa perempuan harus mengalah sementara di pertandingan kali ini.

Alasan Mengapa Pemimpin Wanita Harus Berprestasi

Dalam sebuah kajian, terkuak sebuah fakta yang sebetulnya tidak mengherankan terkait cara pandang terhadap sistem berpolitik suatu negara. Apa yang ditampilkan adalah betapa mirisnya bahwa birokrasi dan golongan eksekutif masih saja mengedepankan tokoh politik yang kurang baik. Mereka senantiasa menekan perempuan dan menggiring opini bahwa pria lebih pantas memimpin, sehingga ketimpangan gender makin awet isunya.

Kaca Tebal Yang Harus Dirobohkan Oleh Kaum Hawa Ke Pemerintahan

Pada prakteknya, kesetaraan gender seringkali disalahpahami dan tidak dijalankan dengan semestinya. Perempuan sesungguhnya sama sekali tidak ingin merebut peran laki-laki dalam bekerja. Kita semua mengerti dan harus mengakui bahwa wanita dan pria memang diciptakan dengan tujuan dan alasan berbeda.

Namun terlepas dari semua itu, jenis kelamin apapun harusnya didukung untuk mempunyai hak asasi dan kesempatan yang sama. Kesetaraan itu salah satunya harus dituangkan dalam perihal mencalonkan diri menjadi pejabat politik. Lucunya, ketika seorang wanita dipercayakan suatu peran dalam pemerintahan, mereka sering kali dipaksa bekerja seperti porsinya laki-laki. Hal itu merupakan sebuah kekeliruan yang fatal, malah bisa jadi sebuah penghinaan secara tidak langsung terhadap kaum wanita.

Alasan Mengapa Pemimpin Wanita Harus Berprestasi1

Meskipun saat ini sudah banyak jumlah perempuan yang mengisi kursi di DPR, tetap saja perjuangan mereka belum bisa dibilang selesai. Sebagian besar dari mereka bekerja dengan tekanan di balik bayangan kepala pria di sekitarnya. Itu berarti bisa saja ayah, abang, adik, atau sepupu di keluarga besarnya. Konsekuensi berat harus mereka jalani setiap kali ia terpilih menjadi suatu posisi yang cukup penting di jajaran pemerintahan.

Perempuan ini akan disorot sedemikian rupa baik itu dari tindak tanduknya dan dipertanyakan prestasinya. Untuk itu, mereka dituntut supaya bekerja jauh lebih giat, produktif, efektif, dan berhasil dibandingkan porsi wajarnya. Makanya jangan heran kalau sosok pemimpin wanita biasanya memiliki pencapaian yang luar biasa sepanjang masa jabatannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *